DARITADI.COM Metro – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kota Metro berlangsung meriah dan sarat makna dengan melibatkan 2.168 guru dalam kegiatan membatik shibori massal serta pengenalan tradisi makan bersama “Nyeruit Jejamo”.
Kegiatan yang dipusatkan di ruang terbuka itu dihadiri Wali Kota Metro Bambang Imam Santoso bersama Ketua DPRD Kota Metro Ria Hartini dan jajaran instansi vertikal sebagai bagian dari gerakan “Pendidikan Bermutu untuk Semua”.
Momentum utama kegiatan terlihat saat ribuan guru secara serentak melakukan praktik membatik shibori. Aksi tersebut menjadi simbol dedikasi tenaga pendidik dalam “mewarnai” peradaban melalui pendidikan dan pelestarian budaya.

Wali Kota Bambang mengatakan peringatan Hardiknas harus menjadi momentum refleksi, bukan sekadar kegiatan seremonial.
“Festival membatik ini bukan sekadar membuat kain jadi indah. Ini simbol bahwa guru adalah ‘pewarna’ peradaban. Mereka membentuk karakter, menorehkan ilmu, dan menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbudaya,” katanya.

Ia juga mengaitkan makna pendidikan dengan nilai religius melalui ayat pertama dalam Al-Qur’an, yakni “Iqro” dalam Surat Al-Alaq, yang menurutnya menjadi dasar penting dalam membangun budaya literasi dan keimanan.
“Ini perpaduan antara membaca dan meyakini Sang Maha Kuasa. Sejalan dengan visi Metro sebagai kota pendidikan dan kota cerdas,” ujarnya.
Menurut Bambang, konsep membaca tidak hanya terbatas pada teks, melainkan juga mencakup kemampuan memahami fenomena alam dan kehidupan.
“Membaca bukan hanya membaca buku atau tulisan, tetapi juga membaca alam semesta. Itu membuat pengetahuan kita berkembang,” katanya.

Ia menegaskan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan dan moral dalam dunia pendidikan. “Yang kita harapkan adalah anak didik yang benar dan pintar. Bukan hanya benar tetapi tidak pintar, atau pintar tetapi tidak benar,” ujarnya.
Selain membatik, peringatan Hardiknas juga dirangkaikan dengan tradisi “nyeruit jejamo”, yakni makan bersama khas Lampung yang mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong.
Menurut Bambang, pengenalan budaya lokal tersebut penting untuk ditanamkan kepada peserta didik melalui peran guru sebagai agen perubahan sosial.

“Melalui tradisi ini, kita ajarkan nilai kebersamaan, saling berbagi, dan memperkuat karakter generasi muda,” katanya.
Peringatan Hardiknas di Kota Metro menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui praktik budaya dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh para pendidik.(A1)





