Beranda Bandar Lampung Lamang Tapai Legendaris Kota Metro digemari masyarakat maupun luar Kota

Lamang Tapai Legendaris Kota Metro digemari masyarakat maupun luar Kota

148
0
Oplus_0

Edy chaniago, sudah berjualan lamang tapai sejak 1977 an. Setiap tahun, Edy bersama keluarga membuat lamang tapai di kediaman miliknya beralamat Jalan Imam Bonjol, 22 Hadimulyo Barat, RT/RW 22/05.

Daritadi.Com Metro — Berbagai macam kuliner khas banyak ditemui di berbagai Pasar Ramadan. Salah satunya lamang tapai, kuliner khas Sumatera Barat ini yang banyak diburu masyarakat Kota Metro bahkan ada dari luar kota.

Jajan legendaris Minang ini terbuat dari beras ketan lalu dimasak dengan santan dalam bambu yang dilapisi daun pisang. Rasanya manis dan gurih.

Salah seorang Pekerja sedang menyusun Lamang Tapai untuk siap dibakar

Dicampur dengan kuah tapai yang terbuat dari ketan hitam, perpaduan lamang tapai sangat pas sebagai menu berbuka dan mengenyangkan tentunya.

Kuliner tradisional ini dapat ditemukan di Wisata kuliner senja Ramadhan yang digelar Pemkot Metro di Samber park setempat. Bahkan kuliner khas minang di distribusikan sampai luar kota metro, yakni natar dan branti.

FOTO : EDY CHANIAGO PEMBUAT SEKALIGUS PENJUAL LAMANG TAPAI DI KOTA METRO DARI TAHUN 1977

Salah seorang pembuat sekaligus penjual lamang tapai Edy Chaniago mengaku, lamang tapai dijual dengan harga mulai Rp 10 Ribu satu porsi.

“Kalau lamang saja Rp 10 Ribu, tapai Rp 5 Ribu. Sementara lamang satu batang Rp 80 Ribu, sebab bahan – bahan pembuatannya sudah mulai naik, seperti buah kelapa,” ujar Edy Chaniago, saat ditemui di kediamannya, Kamis (6/3/2025).

Edy chaniago, sudah berjualan lamang tapai sejak 1977 an. Setiap tahun, Edy bersama keluarga membuat lamang tapai di kediaman miliknya beralamat Jalan Imam Bonjol, 22 Hadimulyo Barat, RT/RW 22/05.

FOTO : Salah satu pembuat lamang Tapai sedang memasukan ketan ke dalam bambu

Edy Chaniago bercerita, lamang dan tapai dibuatnya sendiri bersama sang ibu dan anggota keluarga yang lain.

Selama bulan Ramadhan Ia membuat lamang sekitar 40 liter ketan, yang bisa menghasilkan 60 sampai 70 batang lamang.

Sementara tapai sekitar 40 kilogram beras ketan. Kesemuanya habis saat dijual di Pasar Wisata kuliner senja Ramadhan dan di warung miliknya terletak di pasar Shoping Bumi Sai Wawai.

“Alhamdulillah, biasanya habis semuanya, pas magrib habis,” ujar Edy Chaniago.

Edy Chaniago, mengaku belajar membuat lamang tapai dari orang tuanya alias turun menurun. Dan untuk proses pembuatannya, dirinya membutuhkan waktu 4 sampai lima jam untuk memasak lamang.

“Habis berbuka puasa, kelapa diparut dan semua bahan disiapkan. Jam 10 malam mulai dibakar selama 4 sampai 5 jam,” ujarnya.

“Biasanya habis semua. Kalau habis bisa bawa uang sekitar Rp 800 Ribu,” tutupnya.(Dv)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini